Ketua HMI Tanjung Jabung Barat Bicara Soal Sawit Murah

Lintas Daerah1 Dilihat

Serumpuntimur.co
KUALA TUNGKALÀÀ-Kelangkaan Minyak Goreng yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi salah satu akar penyebab anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit.

Berbagai kebijakan diambil oleh pemerintah guna mengatasi kelangkaan minyak goreng, Mulai dari melakukan operasi pasar, skema subsidi minyak goreng curah, menaikkan pajak ekspor minyak goreng.

Dan terkahir pada tanggal 22/4/2022 Presiden Jokowi memimpin Rapat Terbatas (ratas) di Istana Merdeka mengenai pemenuhan kebutuhan pokok dan melarang ekspor bahan baku minyak goreng. Meski beberapa waktu lalu presiden Joko Widodo mencambut kembali larangan itu

Namun alih-alih berhasil, kebijakan ini justru berdampak pada berbagai aspek. Larangan ekspor CPO oleh pemerintah membuat harga tandan buah segar sawit justru terjun bebas yang biasanya 4000/kg menjadi 1000 lebih/kg.

Kondisi semakin di perparah dengan banyaknya perusahaan menyetop penerimaan tandan buah segar (TBS) dengan alasan tangki penyimpanan (storage tank) hampir penuh sementara minyak hasil produksi belum terjual.

Petani di Belitung Timur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung terpaksa harus membawa pulang Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit miliknya kerumah, tidak laku dijual.

Hal ini tentu harus menjadi perhatian semua pihak karena tidak menutup kemungkinan petani sawit di Provinsi Jambi juga akan mengalami hal yang sama. Terlebih lagi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang mana memiliki luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 72.995 hektar dengan hasil produksi 160.939 ton.

Update terkahir harga TBS sawit di Kabupaten Tanjung Jabung Barat juga terjun bebas dan hanya dihargai Rp. 800/kg dan berakibat pada meruginya para petani sawit.

Ketua HMI Tanjung Jabung Barat Muhammad Lukman, mengatakan, solusi konkrit yang harus diambil Pemerintah pusat adalah harus sesegera mungkin mencabut kebijakan larangan ekspor CPO agar sirkulasi ekonomi dapat kembali berjalan.

“ Pemerintah Daerah juga tidak boleh diam berpangku tangan. Harus ada intervensi dalam bentuk kebijakan agar harga komoditas sawit di daerah tetap stabil dan masyarakat tidak mengalami kesulitan. Atau melakukan Inovasi berupa Hilirisasi, agar bisa menghadapi tekanan pasar global. Melalui hilirisasi, diharapkan Indonesia sampai kedaerah tidak lagi bertumpu pada penjualan minyak sawit mentah (CPO). Namun mampu mengolahnya ke dalam sub-produk lain yang memiliki nilai ekonomi yang lebih menguntungkan” papar Muhammad Lukman

Muhammad Lukman memberikan contoh, yakni Bupati Damashraya dalam menyikapi anjloknya harga TBS selama dua minggu belakang ini, langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di wilayahnya bahkan beliau akan mempertimbangkan untuk mencabut izin usaha pengelolaan hasil perkebunan perusahaan jika perusahaan masih menolak TBS dari masyarakat.

Penulis : Ardy Putra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *