Sang Petahana Dan Politik Tanjab Timur

politik, TERKINI1 Dilihat

Awalnya tak ada yang percaya Romi Hariyanto – Robby Nahliyansyah akan menjajal jalur perseorangan untuk meneruskan kepemimpinannya sebagai bupati dan wakil bupati Tanjung Jabung Timur periode kedua. Selain akan jadi rebutan partai politik untuk diusung, Romi – Robby adalah kader PAN, partai pemenang pileg 2019 di daerah itu dengan perolehan 17 dari 30 kursi dewan.

Tapi isu itu benar terjadi, di hari Jumat 21 Februari lalu, keduanya diantar ratusan pendukung ke KPUD setempat untuk mendaftar jalur perseorangan. Keputusan tak biasa bagi seorang kader parpol.

Belakangan terungkap alasannya; karena kondisi kongres PAN di Kendari yang berpotensi membuat PAN terpecah. Jika itu terjadi memang otomatis akan menjadi kendala bagi PAN seluruh Indonesia dalam mengikuti pilkada serentak tahun ini. “Karena kekhawatiran itu kami memutuskan maju jalur independent, ini soal teknis saja, kami berdua ini kader murni PAN, tidak mungkin kami berkhianat, dan kami berkeyakinan PAN tetap di barisan kami pada pilkada serentak nanti,’’kata Romi diwawancarai sebuah media.

Romi – Robby juga tak membangun komunikasi kepada parpol selain PAN. Saat PDIP Tanjabtim membuka penjaringan, Romi memang sempat mendaftar. Namun menurutnya itu hanya bagian dari komunikasi kepatutan saja karena ada permintaan sahabanya di PDIP. Sedangkan Robby tidak ikut mendaftar. Tercatat sejumlah parpol sempat membuka penjaringan, di antaranya Golkar dan Nasdem.

Seiring waktu, kegalauan parpol di Tanjabtim kian ketara hingga terjadilah pertemuan parpol selain PAN di kantor DPD II Golkar Tanjabtim pada 29 Juni 2020. Tampak hadir unsur Golkar, PDIP, Gerindra, Nasdem dan sejumlah parpol di luar parlemen. Keputusannya; mencuat dua nama untuk diusung sebagai penantang incumbent yakni Abdul Rasid – H Anwar. Rencana ini kemudian vacum dan sempat bergonta – ganti komposisi hingga akhirnya final lah nama Abdul Rasid – H Mustakim.

Romi terkesan enggan membangun komunikasi dengan parpol selain PAN. Ia membantah, menurutnya sebagai pasangan yang maju independent tak patut jika ikut ‘membabat’ parpol. “Kita bertanggungjawab menjaga demokrasi berjalan” ucapnya suatu ketika.

Ia tak risau meski sebagian orang beranggapan dia sedang mamainkan manuver. Dugaan ini lantaran Romi juga diketahui sibuk mengurusi Pigub Jambi yang dijadwalkan serantak dengan pilbup yang ia ikuti Desember nanti. Romi bahkan dianggap inisiator bergabungnya lima bupati menghadapi Pilgub Jambi. Dia menggalang kekuatan bersama bupati Bungo, Bupati Kerinci, Bupati Muarojambi dan Bupati Merangin untuk kompak satu barisan di dukungan Pilgub Jambi. Hampir bisa dipastikan dukungan itu mengarah ke Alharis – Abdullah Sani. Apalagi belakangan, PAN juga resmi mengusung Haris – Sani.

Manuver Romi di ajang Pilgub Jambi itu seperti mengukuhkan bahwa ia sedang memainkan langkah kuda dalam percaturan dua pertandingan sekaligus. Keberanian itu tentu tidak bisa dianggap ujug – ujug. Kekuatan jaringan dan komunikasi politik yang dikenal piawai adalah modal besar Romi yang nyaris tak dimiliki politisi kebanyakan. Terbukti sebagai ketua DPD PAN Tanjabtim, Romi berhasil membawa PAN menang besar, bahkan terbesar sepanjang sejarah PAN di Indonesia. Hal ini pula yang dibanggakan sang Ketum Zulkifli Hasan dalam sebuah tweet nya. Uniknya dalam waktu bersamaan dia juga berhasil memenangkan Jokowi – Makruf Amin yang notabene tak diusung PAN. Keputusan maju jalur perseorangan juga membuktikan bahwa kerja kerasnya membesarkan PAN adalah bukti loyalitas, bukan lantaran ingin menyiapkan perahu sebagai sarana menuju periode keduanya sebagai bupati.

Soal majunya Ratu Munawwaroh mendampingi Cek Endra sebagai kompetitor Haris – Sani, Romi yang diperkirakan bimbang boleh jadi justru bisa jadi semakin pede untuk menunjukkan loyalitasnya pada PAN. Pasalnya, meski Ratu terbilang keluarga Tanjabtim, keputusannya loncat ke PDIP menjadi pembenaran Romi untuk tetap menjaga nama Tanjabtim sebagai basis PAN. Karena itu pula Romi tak terlalu risau saat ayahandanya Hasan Ismail menyatakan dukungan kepada CE – Ratu. Bagi Romi hal itu menunjukkan sisi lain Hasan sebagai orangtua yang menjaga silaturrahim dengan kerabatnya. Sebagaimana diketahui, Hasan adalah sahabat mendiang Zulkifli Nurdin suami Ratu, mantan Gubernur Jambi dua periode sekaligus ketua DPW PAN dimana Hasan menjadi salah satu punggawanya.

Lantas bagaimana Romi – Robby menanggapi kemunculan Rasid – Mustakim sebagai penantang? Boleh jadi meski tak bermaksud meremehkan, pasangan petahana itu beranggapan keputusan parpol di luar PAN tersebut lebih ringan dari apa yang sebelumnya mereka perkirakan. Romi cukup mengenal keduanya karena memang baik Rasid maupun mustakim pernah menjadi ‘anak buah’nya.

Isu pilbup Tanjabtim dan Pilgub Tanjabtim memang terasa saling berkait erat, utamanya bagi Golkar dan PDIP pengusung CE – Ratu di Pilgub Jambi. Dipastikan segala keputusan siapa yang akan diusung di Pilbup Tanjabtim akan mempertimbangkan strategi pemenangan CE – Ratu di Pilgub. Langkah Golkar untuk merekomendasi Rasid – Mustakim akan terhambat oleh Ratu yang yakin bisa ‘mengendalikan’ Romi. Tapi sepertinya apapun keputusan Golkar nanti di Pilbup Tanjabtim, berat bagi Ratu untuk mempersembahkan kemenangan Pilgub di sana. Romi – Robby yang dikenal mengakar ditambah sutuasi Covid-19 semakin menyulitkan pemain baru membuat langkah. Walaupun PDIP bersama sejumlah parpol di Tanjabtim dikabarkan sudah resmi merekomendasikan Rasid – Mustakim, Golkar nampakya masih galau lantaran langkah kuda Romi – Robby, sang petahana***

Catatan : Rustam Hasanuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *